Selasa, 31 Desember 2013

Refleksi Akhir Tahun Mengawali Perubahan

http://imnabilacitra.blogspot.com/2013/06/school-in-2014.html

Tidak terasa ya kita sudah berada di penghujung tahun lagi. Berarti sebentar lagi tahun baru 2014 akan tiba. Pada tanggal 1 Januari disepakati semua orang sebagai tahun baru dalam kalender masehi. Pada hari tersebut hampir semua orang bersuka cita merayakan dengan caranya masing-masing. Namun makna dari tahun baru sebenarnya bukanlah untuk satu hari atau satu malam saja, melainkan satu tahun secara keseluruhan. Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan untuk memaknai pergantian tahun kali ini? Ada dua hal yang menurut penulis dapat kawan-kawan jejak lakukan.
Pertama, Evaluasi diri. Sudah seyogyanya bagi kita untuk selalu evaluasi diri, terlebih pada penghujung akhir tahun ini. Jika kita yang masih sekolah dan kuliah, barangkali evaluasi ditekankan pada tugas-tugas sekolah maupun kuliahnya. Bagi yang sudah bekerja pun demikian, mengevaluasi setiap pekerjaannya. Apakah tugas-tugas maupun pekerjaan tersebut telah terselesaikan dengan baik atau belum. Jika belum, dimana letak kekurangannya, lantas perbaiki.
Evaluasi pun tidak hanya untuk pekerjaan kita, melainkan evaluasi terhadap hubungan kita dengan orang lain. Apakah selama ini, hubungan antara kita dan keluarga, terjalin baik atau belum. Dan apakah hubungan pertemanan kita sekarang ini semakin baik atau bahkan sebaliknya. Jika belum, maka tugas kita adalah memperbaikinya. Inilah gunannya evaluasi. Dimana evaluasi mengharuskan kita untuk memperbaiki kekurangan maupun kesalahan dan mendorong kita untuk tidak mengulang hal serupa di tahun mendatang.
Kedua, Rencana Satu Tahun. Setelah evaluasi yang kita lakukan, maka langkah perencanaan pun menjadi hal penting untuk kita perhatikan. Mengapa demikian? Dengan perencanaan, maka kita akan terfokus terhadap hal yang akan kita capai di tahun baru. Seperti yang dikatakan Joko Anwar, “If you don’t have plans, you’ll easly go off rails. Once you go off that cliff, I don’t think will be a way back”. Menulis daftar mimpi atau rencana barangkali dapat menjadi langkah awal untuk merealisasikannya. Dengan memvisualisasikan mimpi/rencana, baik di pikiran maupun dengan membuat daftar panjang berisi rencana dan impian-impian kita, kita bisa memotivasi diri sendiri untuk meraihnya. Deal?
Seperti yang pernah dibahas dalam catatan “Resolusi Tahun Baru Islam”, maka hal ini pun harus kita pupuk dan pelihara. Tiada lain adalah visi dan misi yang selalu kita ON-kan. Pada akhirnya, penulis ucapkan selamat tahun baru, semoga dengan semangat tahun baru kita bisa menjadikan tahun baru ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Kamis, 26 Desember 2013

BEASISWA DATA PRINT








Kabar bagus nih buat sahabat-sahabat yang masih pelajar dan mahasiswa, segera daftarkan diri kamu dalam program beasiswa Data Print 2013. Caranya bagaimana? Tenang dulu, sob!
Kali ini saya akan membantu sahabat-sahabat jejak untuk mengetahui apa dan bagaimana Beasiswa Data Print itu. Beasiswa ini merupakan program dari Data Print bagi penggunanya sebagai rasa terima kasih karena telah menggunakan produk DataPrint. Program ini bukan pertama kali telah dilaksanakan, melainkan dilaksanakan dari tahun 2011 hingga sekarang dan telah memberikan bantuan beasiswa lebih dari 1000 beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar (Siswa) dan Mahasiswa.
Di tahun 2013 sebanyak 500 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta. Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi tunggu apa lagi, segera daftarkan diri sahabat disini.
Pendaftaran periode 2   : 1 Juli – 31 Desember 2013
Pengumuman                 : 13 Januari 2014
Untuk info lebih lanjut silakan kunjungi website resmi Data Print disini
Semoga bermanfaat… J

Minggu, 22 Desember 2013

Selamat Hari Ibu

Berfoto bersama ibu di pematang sawah



Apa yang terbesit dibenak kawan-kawan manakala sudah berada di dekat ibu (red: jika kondisinya sekarang masih di perantauan)? Atau pertanyaannya begini saja, “Apakah ketika kita sudah berada didekatnya, apapun beban hidup yang kita tanggung dan kita pendam sendirian sebelumnya, terasa beban itu hilang begitu saja?”
Ya, jawabannya karena beliau selalu ada untuk mendengarkan setiap keluh kesah anaknya. Keikhlasannya selalu membalut senyumannya. Kesabarannya senantiasa menemaninya dan kehangatannya selalu menjadi kerinduan manakala kita sedang jauh darinya.  Pada akhirnya, kita akan terus merindukan tempat pulang yang paling menenangkan, yaitu pelukan Ibu.

Ribuan kilo
jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara…
kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalas, ibu…ibu…
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa membalas, ibu…ibu
(Iwan Fals, “Ibu”)

Ya, itulah ibu yang sudah mengorbankan segalanya untuk kita, tetapi sampai detik ini kita belum pernah membuat pengorbanan yang berarti untuknya. Kita seringkali tidak sadar, ternyata masih banyak aspek yang kita lupakan untuk membalas kebaikannya.
Terkadang kita tidak menghiraukan kerinduannya kepada kita. Padahal saat itu, beliau tengah merindukan kehadiran kita di sisinya, menunggu kita pulang dengan rentang pelukan dan hangat air mata. Barangkali dengan bertemu saja, ibu sudah sangat bahagia. Kita bahkan lupa mendoakan beliau, padahal doa yang beliau langitkan tak pernah putus dan terus menyala sebagai pelita dalam kegelapan.
Kita tak pernah sadar betul bahwa selama ini hanya merepotkannya. Mengharuskan beliau mengikuti keinginan kita yang tak pernah ada habisnya. “Sabarlah nak, jika ibu sudah punya uang, maka akan ibu belikan”, senyum ibu. Kita pun sering lupa untuk menanyakan kabar ibu, bahkan kita tetap saja sibuk dengan dunia kita. Padahal ibu mengharapkan kabar walau hanya dengan mendengar suara dan sapaan kita. Maka sempatkanlah berbagi waktu dengannya.
Kita terkadang lupa berdoa dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menghadirkan ibu yang super untuk kita. Ibu yang telah rela mengandung selama 9 bulan, yang melahirkan kita, yang menjaga serta merawat kita. Ibu yang mendidik kita untuk menjadi anak yang cerdas, anak yang mampu mengangkat harkat dan martabat keluarganya, serta memajukan bangsa lewat karyanya.
Masihkah kita membuat sedih ibunda kita? Masihkah sampai detik ini kita memendam rasa kecewa terhadap ibu? Masih adakah di relung hati yang terdalam tega membiarkan ibu sendirian? Masihkah sampai hari ini, doa-doa dari ananda mengalir untuk ibunda tercinta?
Sekarang mari kita renungkan. Darinya kita belajar ketegaran, bahwa sesulit apapun hidup, kita harus dapat menghadapinya. Darinya kita petik ketulusan dan keikhlasan bahwasannya kasih sayang yang ia berikan begitu besar dan tak pernah terukur. Darinya kita pun belajar memberi tanpa mengharap minta. Ibu, sosok malaikat tak bersayap yang selalu menyayangi dan menerima kita apa adanya. Berterimakasihlah padanya, berbanggalah karena telah memilikinya, dan bahagiakanlah ia dengan segenap kemampuan kita.
Selamat hari ibu, semoga ibu selalu ada dalam lindungan-Nya. Dimudahkan segala urusannya. Diberi kebahagiaan dunia juga akhiratnya. Dan semoga kita selaku putra putrinya mendapat energi yang seluas bumi dan sedalam lautan untuk menjadi anak yang lebih berbakti. Aamiinn Ya Rabb

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis blog cinta ibu yang diselenggarakan oleh perempuan.com.

Kamis, 05 Desember 2013

Kewajiban Menggali Potensi



Ada salah satu dosen yang ketika itu berkata, “Galilah potensi yang ada dalam diri dan ambilah khasanah dari setiap kejadian”. Aku bertanya pada diri sendiri, apakah selama ini aku sudah menggali, menemukan, dan memaksimalkan potensi diri? Dan apakah selama 21 tahun ini aku tidak hidup dalam kesia-siaan? Berpoya-poya dengan kesenangan yang itu hanya bersifat sementara?
Tuhan menciptakan kita tidak “sagawayah”, tidak asal-asalan. Dalam surat Al-Fushilat (41) : 53 Allah berfirman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar”. Sudah jelas bukan, kita diperintahkan untuk memaksimalkan potensi yang ada dalam diri.
Di semester tujuh ini, dan dengan usia yang semakin bertambah juga, keharusan kita untuk menggali potensi harus semakin kita pacu lagi. Bagaimana caranya? Hal pertama yang dapat kita lakukan, ialah memulai dengan hal-hal yang kecil, seperti hobi. Selanjutnya menjadikan hobi sebagai media refresh juga penyalur di samping tugas-tugas yang menumpuk.
Kedua, menciptakan kenyamanan dalam diri. Kita hidup dan mengekspresikan segala sesuatu tanpa harus merasa mendapat tekanan dari orang lain maupun lingkungan. Enjoy saja, seperti kata pepatah, “Sukai apa yang kamu lakukan. dan lakukan apa yang kamu sukai”. Lakukan semata-mata karena-Nya. Ketiga, carilah partner yang dapat mendukung kita untuk tetap berkarya. Jangan menutup diri kepada mereka, karena biasanya penilaian dan masukan datang dari mereka yang peduli terhadap kita.
Keempat, jika sudah mengenali potensi kita, maka tugas selanjutnya ialah memaksimalkannya. Menjadikan hal tersebut peluang, merupakan ide yang bagus untuk ke depannya. Kelima, selalu bersyukur kepada-Nya untuk nikmat yang telah diberikan untuk kita, khususnya disini nikmat potensi yang ada dalam diri.
Jangan pernah menyia-nyiakan potensi diri, jangan pernah bosan untuk menyalurkannya lewat hobi, dan jangan lupa untuk tetap memohon kepada-Nya agar kita selalu diberikan jalan menuju pintu-pintu potensi tersebut. Sebagai rasa syukur, semoga penghargaan ini dapat menjadi motivasi untuk lebih baik dan menjadi penyemangat untuk menggali potensi lainnya.

Pangandaran (deburan ombaknya menghempaskan pasir pantai)

Sunset di Pantai Barat Pangandaran

Bagiku, pantai selalu membawa nyawanya dan menghadirkan keunikannya tersendiri. Belum ada sederatan tempat yang paling menarik hati (menurut penulis) kecuali pantai. Ia selalu memanjakan penikmatnya dengan riuh ombak yang tak pernah padam, dengan pijakan pasir pantai, dan rimbunan daun pandan yang beberapa bersembulan. Elok nian ciptaan Tuhan ini. Salah jika kukira Tuhan tak menghadirkan kekayaan-Nya lewat pantai ini.
Selalu saja pantai sebagai jawabannya. Seperti yang kutemui 2 minggu yang lalu, saat ada kesempatan untuk liburan ke Pangandaran karena ajakan Mba Ris. “Yeah, ini kesempatan, dan tak kan terulang untuk kedua kalinya.” bisik hati. Perjalanan dari Bandung-Pangandaran memakan waktu 6 jam. Perjalanan kesana memang membawa banyak kesan. Teman-teman PBI yang baru kukenal hanya pada saat di bus mengharuskanku untuk dapat berbaur dengan mereka, yang katanya mereka lebih akrab dengan sebutan “kaum marginal” hehe. Setibanya disana, ada rehat 2 jam sebelum sore menjemput dan menarik kami ke pantai. Berbincang-bincang ringan bersama teman sekamar, merapikan bawaan yang ada dalam tas.
***
Sore tiba, saatnya bergegas bersama teman-teman, berjalan menuju arah matahari akan terbenam. Namun nampaknya sore itu mendung dan sunset nampak malu-malu memperlihatkannya. Tetap saja pantai saat itu mengajakku bermain. Melambai-lambai lewat ombaknya yang bersahabat.  Dan satu jepretan foto mengawali jepretan-jepretan berikutnya. Ini yang sebenarnya tidak boleh terlewatkan. Karena melalui gambar, maka sederatan momen acap kali akan mengusik saat kita memutuskan untuk bernostalgia. Lihat saja nanti.
***
Paginya pun sunrise tak kutemukan karena menutup diri di balik awan mendung. Kukayuh sepedaku kembali, berharap kutemui matahari menghangatkan tubuhku. Kebetulan aku memakai sepeda untuk dua orang. Jika kuingat bagaimana usahaku pertama kali bersama Mba Ris agar sepeda ini berjalan, pasti saja ketawa ngakak. Selanjutnya saat sepeda tak berdosa ini menabrak mamang-mamang beca di arah berlawanan karena rem sepedanya blong. Untung saja pelan-pelan. (maklum, kami pengemudi sepeda amatiran hehe). Oya, jika sudah ke pangandaran, katanya tidak sah jika tidak membeli oleh-oleh. Mulai dari pakaian, ikan-ikan asin, dijajakan di setiap penjuru pasar. Rupanya magnetnya disini toh.
***
Sunrise di Pantai Timur Pangandaran

Eksis berfoto di Pantai Batu Karas
Pantai selanjutnya yang wajib dikunjungi, yaitu pantai Batu Karas. Dan seperti budaya sebelumnya, gambar tak boleh terlewatkan. Seperti yang pembaca lihat di atas, penulis sedang eksis berfoto. Saran penulis, jika hendak berfoto-foto di bawah batu karang, pakailah sendal, karena memang batu karangnya lumayan lancip dan agak tajam. Berjaga-jaga untuk keselamatan kaki, tidak ada salahnya, bukan? hehe
Pantai memang seringkali menarik setiap peminat dan penikmatnya. Entah sejauh apa perjalanan menuju pantai tersebut, entah seberapa besar materi yang harus dikeluarkan, mereka para penikmat ini tidak akan pernah peduli. Karena pantai yang mereka kunjungi seolah membayar semuanya lewat keindahan yang Tuhan perlihatkan, dan mereka nampaknya tak akan segan untuk mensyukurinya.



Jumat, 29 November 2013

[Cermin] Hadiah Kecil Untuk Kaka



Siang itu berbeda dari biasanya. Sibuk bukan main. Tapi pada kenyataannya tetap memancarkan ketenangan. Eits, sibuk yo sibuk. Tapi tenang juga harus menyertai. Istilah baru yang mungkin sebagian orang tidak akan setuju. :D

Di kosan, tugasku berjubel untuk minggu-minggu ini. Mungkin bisa dihitung sampai akhir november nanti bahkan sampai desember. Kita lihat saja. Mulai dari tugas kuliah yang bercabang, sampai dengan tugas lain yang semakin hari semakin melambai-lambai saja. Barulah kusadari tugas-tugas tersebut belum kuselesaikan dari dua minggu yang lalu. Kalau kata orang, “semakin ditumpuk semakin menggunung, dan semakin tercecer saja”. Benar memang demikian. Maka mulailah kutengok kaligrafi yang sudah kugunting itu. Kemudian kutempel pada selembar kertas gambar.
Kumulai mewarnainya. Bolak-balik kamar mandi karena harus mengganti warna yang sudah tak terpakai. Tangan jangan ditanya lagi, sudah warna-warni seperti pelangi. Amboi, baru kugerakan tangan ini untuk menggambar. Jika dihitung, terakhir menggambar itu semester dua dan sekarang aku semester tujuh. Sudah dua tahun setengah. Lama nian, boi.
Teroreeett...Satu jam kemudian, beres. Kutanyakan pada Taya, yang baru bangun dari tidurnya karena lelah setelah pertandingan voli. “Bu, gimana?”, kataku sambil kuperlihatkan hasil padanya. “Lucu, ci” jawab Taya. “Sekarang tinggal mikirin yang lainnya”, tambahku.
Aku selalu membayangkan kesana-kemari. Kaka memakai baju toga, membawa ijazah, dan aku di sampingnya bersama ibu dan bapak. Wow dahsyat cetar membahana badai. “Semoga lulusnya lekas tertular padaku”, bisik hati yang lirih. Hadiah kecil ini kupersembahkan untuk kaka yang baru saja di wisuda. Selamat atas kelulusannya. Semoga ilmu yang didapat selama kuliah dapat bermanfaat dan dapat diaplikasikan di dalam kehidupan.

Minggu, 10 November 2013

Tuhan Menegurku


Pukul 10.00 pagi itu, aku berniat untuk jalan-jalan ke Pasar Baru bersama Teh Bety. Namun karena mendapatkan sms untuk mengajar les pukul 09.30, jadi kuurungkan niatku untuk pergi setelah beres les saja. Tik tok tik tok, jam pun berbunyi dan terus berputar tanpa menghiraukan kehidupan yang semakin tua.
“Susi, jadi enggak? Tadi keburu ngantuk jadi tiduran dulu” Tanya Teh Bety di sms pukul 11.00.
“Ya Teh, jadi. Maaf teh tadi gak jadi jam 10.00 soalnya aku ada ngajar les dulu. Ntar kalo udah di depan kosan teteh aku sms ya” Jawabku sembari merapikan buku kehadiran.
Panas matahari merongrong sampai ke kulit. Berangkatlah aku bersama Teh Bety sekitar pukul 11.30. Singkat cerita, kami sudah berada di Jl. Soekarno Hatta yang mau ke arah Kiara Condong. Setelah lampu hijau menyala, kubawa motorku melaju di kecepatan 30Km/Jam. Begitu angkot di depan berhenti mendadak, tukang sayuran di belakangnya pun menyalip yang posisi kami berada tepat dipinggir tukang sayuran tersebut.
Aku mencoba melaunkan kecepatan agar terhindar dari keranjang sayurannya. Namun sayangnya keranjang sayuran mengenai motorku. Karena aku tak bisa menyeimbangkannya, maka“Brak”jatuhlah kami mengenai badan aspal. Orang-orang di seberang jalan setengah shock melihatku, lantas membangunkan motor yang sedari tadi menjepit kaki kananku.
“Teteh gak apa-apa?” Tanyaku sembari cemas.
“Gak apa-apa teteh mah, Sus. Susi gimana? Coba dilihat dulu aja, bisi ada luka.” Jawab tteh Bety
“Perih sih teh. Tapi diliatnya nanti aja. Malu juga kalo harus diliat disini.” Tambahku sembari menahan perih yang jika kulihat lukanya bisa dibuat lemas karenanya.
Seperti inikah rasanya jatuh di jalan raya? Sakit bukan main, pembaca. Linu sana-sini. Perih nyut-nyutan. Malu bukan kepalang. Shock juga. Tapi Tuhan masih memberi kesempatan hidup padaku, maka harus kusyukuri. Tuhan hanya memberi luka memar di lututku, bukan sekurjur tubuhku, maka seyogyanya harus kusyukuri. Saat jatuh tidak ada kendaraan apapun yang menyambut dari arah yang sama, maka harus lebih kusyukuri. Karena Tuhan masih memampukan aku untuk berdiri, maka syukurku pada-Mu Ya Rabb atas teguran ini.
Di kecelakan yang sama, mungkin saja orang harus dibawa dan dirawat di RS. Memerlukan biaya yang tidak terhitung besarnya. Maka Tuhan Yang Maha Kuasa masih menyayangiku. Pun jika kuperdengarkan hal-hal sebelumnya, sebetulnya Tuhan memberi tahu agar aku berhati-hati atau bahkan Tuhan sengaja memberi jadwal les dadakan agar aku tidak memperturut hawa nafsuku untuk jalan-jalan.
Pembaca, rasa syukur tidak lantas kita ucapkan manakala saat suka saja. Terlebih rasa syukur itu harus dipanjatkan pula saat duka. Syukuri hidup kita hari ini, esok dan seterusnya karena Allah menyayangi kita.

[Cermin] Yang Terpendam Mencuat Juga


Semilir angin malam itu membuatnya kedinginan. Menurutnya tak seperti malam-malam sebelumnya. Namun kedinginannya tetap mampu membalut keindahan Kota Bandung di malam hari, bak permata berkilauan saling memanjakan. Jelas, masih terasa ego yang mengalahkan keikhlasannya seminggu yang lalu. Dan sungguh kerinduan yang terbesit sudah terbayar dengan pertemuan itu.
Ia tengok lima hari yang lalu, di antara mereka tak saling memberi kabar. Seperti perang dingin antar blok . Sampai suatu ketika ia kirim tulisan untuk Rama sebagai kecaman.

Aku Seperti Bukan Diriku

Semestinya katakan saja
apa yang menjadi kekuranganku
Bukan dengan kau sulut kecemburuan ini
Dan harusnya aku tak berkata begini
jika kau mengerti
Bukan dengan aku biarkan kau sadari

Apa jadinya jika kepercayaan ini lambat laun terkikis?
Apa jadinya jika status ini sedikit demi sedikit hanya simbol tak berarti?
Jika kau tahu hatinya selalu ia jaga untukmu
Jika kau tahu perasaan nyeri yang ia rasa karenamu
Apa yang kau tunggu?

Lewat tulisan ini,
semoga kau mengerti.

Tahukah maksudnya apa? Selama seminggu Sinta menahan kecemburuan itu. Mencoba menghalau namun tetap berujung dengan puncak kekesalan yang tak pernah ia inginkan.
“Kenapa atuh?” tanya Rama padanya di telepon.
“Baru kali ini aku cemburu begitu terlalu. Sengajakah engkau membuat aku seperti ini?”kata Sinta sembari kesal.
Dijelaskanlah oleh Rama panjang lebar. Sebab musabab yang sebenarnya satu sama lain hanya berbeda pada satu pandangan saja. Wajarlah jika sang kekasih cemburu. Yang tak wajar itu, jika kecemburuannya ia pendam lama sekali dan suatu saat mencuat ke permukaan karena tak terbendung lagi, seperti yang terjadi pada Sinta.
Di malam minggu itu ia habiskan makan malam bersama Rama. Mengingat dan mengevaluasi setiap lika-liku perjalanan mereka. Merasa lelah sendiri dengan sikap yang salah. Ya, ia sesali penyikapannya terhadap permasalahan itu. Dimana ia tak mampu mengaplikasikan apa yang selama ini dipelajarinya.
Ia tak berkaca terhadap pengalaman-pengalaman yang lalu. Begitu ada permasalahan, seharusnya ia sikapi dengan kepala dingin. Bukan dengan menjudge begitu saja tanpa berpikir panjang. Tiada pengamalan keikhlasan disana. Membantai hati Rama tanpa ia pedulikan Rama yang justru mengalah bersama keikhlasan dan kesabaran. Finally, evaluasi itu membuka mata Sinta untuk tidak menafsirkan segala sesuatunya dengan tergesa-gesa. Mengingat keihklasan, kesabaran, dan berpikir positif harus menjadi kunci setiap perjalanan dalam kehidupannya.

Rabu, 06 November 2013

RESOLUSI DI TAHUN BARU HIJRIAH

http://kata-kata.co/wp-content/uploads/2013/10/Tahun-Baru-Islam-2013-Wallpapers.jpg
Ada makna dalam kata. Ada harapan yang berwujud doa. Ada pergerakan dalam setiap langkah. Ada evaluasi dalam setiap perbuatan. Itulah perubahan dalam diri (Metamorf for self). Perubahan pun haruslah dibarengi dengan MOVE ON. Move-On itu pergerakan, perpindahan, perubahan ke arah yang lebih baik. Bagaimana caranya?
Hal pertama yang harus kita ON-kan adalah visi > menjadi VISION. Tentu saja visi hidup berbeda-beda bagi setiap individu. Sebagai contoh, Reza memiliki visi di tahun baru ini ingin sukses. Namun visi hanya sekedar visi jika tidak dibarengi dengan MISION. Lho kok mengapa mision? Karena hal kedua yang harus di-ON kan adalah misinya, karena dalam langkah terdapat pergerakan. Misalnya, Reza memiliki visi di tahun ini ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan memberikan manfaat untuk sesama. Tidak mungkin Reza mengambil langkah tetap malas, atau sering mentoleransi kebiasaan buruk, lantas visinya akan tercapai. Tidak mungkin.
Visi dan misi saling mengisi satu sama lain jika ditunjang oleh dua hal ini. Yang pertama, Ilmu. Dengan ilmu, segala sesuatu dapat kita genggam. Dengan ilmu, kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Misalnya, ketika setan membisikkan sesuatu (keburukan) pada pendengaran kita, maka dengan ilmu kita dapat menahannya. Begitupun sebaliknya, tanpa ilmu, maka bisikan setan di acc begitu saja oleh pikiran kita. Naudzubillah
Yang kedua, Collaboration. Berkumpul dengan lingkungan yang baik, orang-orang yang soleh, yang dapat memelihara visi dan misi kita. Jelas, seperti kata pepatah, Bertemanlah dengan penjual parfum, maka kita akan kecipratan wanginya”.
Pembaca, dengan hanya bersandar dan berharap Ridho-Nya, semoga di tahun baru ini, kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Menjadi sosok yang diharapkan orang tua dan orang-orang terdekat kita. Menjadi pribadi yang tetap istiqomah dengan visi dan misinya. Aamiinn Allahumma Aamiinn

Rabu, 23 Oktober 2013

[Cerpen] Akhir Pekan Tanpanya

Rabu, 23 Oktober 2013, seharusnya sudah masuk musim penghujan. Ya, nampaknya Sinta tetap bersemayam dengan sepinya, berdialog dengan kesunyian malam. Merangkai kata demi kata untuk dapat ia baca manakala rindu menelusuk kalbu.
Biasanya ia tak sesantai ini. Begitu tenang. Tak mengkhawatirkan belahan hatinya, Arif, yang dua hari lagi akan berangkat ke Riau. Menghabiskan waktu selama satu minggu disana dikarenakan tugas kantor.
“Baru sampai rumah. Ini lagi rebahan dulu”, kata Arif dalam sebuah sms balasan.
“Malem juga ya pulangnya. Jaga kesehatan ya” tanggapannya begitu ia tahu jika Arif sudah 3 hari berturut-turut pulang kantor sampai malam begini.
“Iya sayang. Sedang sibuk-sibuknya sampai bulan depan. Kegiatannya sampai tanggal 2 November” Jawab Arif kembali.
Lama juga ternyata. Ia kira hanya 2-3 hari saja. Kalau seperti ini, 2 minggu kedepan bisa ia habiskan sendiri dengan pena. Mencari kata per kata yang jarang terjamah sebelumnya, dan merangkainya bak pujangga yang ingin menjiwai tulisannya. Lantas bagaimana dengan rencananya ditanggal 3-5 November? Diundur kah? Ia melihat kalender sembari menepis pikiran itu.
“Semangat ya menyambut kegiatannya. Semoga dilancarkan, pun diberi keselamatan. Tak apalah dua minggu kedepan tak berjumpa, yang terpenting hatinya tetap terjaga J”, Ucapnya.
“Aamiinn. Iya, walaupun jauh di mata tapi tetap dekat di hati J”, Balas Arif menenangkannya.
Sinta selalu berharap yang terbaik dari-Nya, untuk Arif. Dimana pun Arif berada, semoga Allah membersamai mereka berdua. Menjaga kesehatan kepada Arif. Memberi keselamatan saat Arif pergi maupun kembali. Dan satu yang agaknya memaksa agar Arif mengabarinya seperti yang ia katakan, “Sesekali kabari juga ya kalau kaka sudah disana”.

Tak lupa ia katakan pada Arif untuk memeriksa kembali barang-barang bawaannya nanti. Meskipun terkesan cerewet, itu demi kebaikan. Karena jika tidak demikian, hal-hal kecil kadang sering terlupakan. “Cerewet” yang katanya bentuk perhatian itu ia lakukan demi menciptakan rasa tenang sehingga ia rela dengan keberangkatan Arif nanti. Sinta bahagia jika Arif bahagia dengan tugasnya. Tak mengapa weekend ini tanpa Arif. Toh itu tak kan melumpuhkan kegiatannya di akhir pekan nanti.

Senin, 21 Oktober 2013

WEDDING VIRUS


Pasti pertanyaan yang keluar tuh “Kapan nikah?” “Kapan nyusul?”. Konon katanya pertanyaan demikian itu bentuk perhatian dan kasih sayang. Lho kok? Dan yang lebih parahnya lagi jika lingkungan kita kebanyakan yang sudah nikah alias pengantin baru. Sudah pasti dicekoki dengan pertanyaan demikian. Betul, bukan? Semakin menjadi-jadi. Oh God, rasanya ingin bersembunyi saja -_-“.
Naah jika pembaca mengalaminya, itu artinya anda sedang mengalami wedding virus atau yang disebut-sebut dengan virus nikah. Namanya juga virus, ya pasti menyebar. Istilah virus nikah ini penulis gunakan sebagai suatu keadaan dimana keinginan-keinginan yang tidak terkendali itu muncul namun tidak diimbangi dengan kesiapan-kesiapan menikah. Keadaan tersebut pun hanya didorong oleh lingkungan yang kebanyakannya sudah pada nikah. Jika pembaca tidak setuju, itu pun tidak apa-apa hehe
Saya jadi inget kutipan dari temen, katanya nikah itu nikmat, indah dan ibadah. Beliau nyesel katanya. What? Kok bisa nyesel? Katanya beliau nyesel kenapa gak dari dulu menikah. Beliau menambahkan, dengan menyegerakan menikah berarti mencegah perbuatan yang tidak diinginkan. Maksudnya terhindar dari berbuat yang macem-macem. Nah lho?! Tapi justru sebaliknya, setelah menikah justru perbuatan yang demikian itu dapat menjadi ladang pahala. (Subhanallah..nambah kabita aja, ahha) :D
Eits tunggu dulu..Bukan berarti pula dengan kita menyegerakan menikah lantas kita tidak memperhatikan hal-hal yang lain. Kita harus mengingat biaya yang harus dipersiapkan oleh kedua orang tua untuk menikahkan kita kelak. Emangnya uang kayak daun kering yang jatoh gitu aja? Ahha. Terlebih ketika kita masih kuliah, yang lantas harus kita pikirkan adalah kesanggupan kita dalam memanaje waktu antara kuliah dan rumah tangga, manakala sudah menikah. Yang tidak ketinggalan juga adalah pengetahuan kita tentang menikah. Naah artinya harus ada kemampuan secara lahir dan batin ketika kita dihadapkan dengan menikah.
Yaa, arti menyegerakan menikah disini ialah bagi mereka yang sudah mampu secara lahir dan batin. Pertanyaannya, apakah kita sudah mampu secara lahir dan batin? Saya kembalikan kepada pembaca, hehe. Jadi jangan karena lingkungan kita udah pada nikah, lantas kita ikut-ikutan senewen pengen ikut nikah juga, sedangkan (red: secara lahir maupun batin pun) belum siap. Pembaca pun pasti tahu bahwasannya menikah itu bukan untuk satu atau dua minggu saja. Tapi berjangka panjang. Perlu kematangan dan hal-hal yang dipertimbangkan disana.
Terus harus gimana dong menangkal virus nikah ini? Well, ada beberapa tips yang saya dapet nih dari beberapa pakar dan beberapa artikel yang saya kutip. Di antaranya perbanyak puasa, perbanyak melakukan kegiatan positif. Artinya, dengan kita melakukan puasa, maka hal-hal yang tidak diinginkan itu dapat ditahan dan dihindari. Sedangkan dengan memperbanyak kegiatan positif, maka ingatan kita terhadap hal-hal nikah itu dapat diminimalisir karena fokus kita itu adalah melakukan aktivitas bermanfaat. Selanjutnya, bergaulah dengan lingkungan yang baik dan orang-orang yang baik. Artinya mereka pasti akan mengarahkan kita kepada hal yang baik tentunya.
Tak lupa untuk memanjatkan doa kepada Yang Kuasa, agar kita segera dimampukan secara lahir dan batin untuk menikah dan disandingkan dengan seseorang yang akan membawa kita kepada-Nya. Aamiin Allohuma Aamiinn

Kamis, 17 Oktober 2013

[Cerbung] Satu Bulan Satu Atap (1)

Rasanya seperti sudah setahun lebih tak bertemu teman-teman laskar Elang. Ah..Entah bagaimana sekarang keadaannya. Pesan di facebook tak ada, untuk update grup pun apalagi.. Padahal baru juga satu bulan. Hellooo...Satu bulan waktu yang cukup lama kali untuk kita gak ketemu hanya sekedar salam sapa, untuk sekedar tanya kabar, dan untuk sekedar ngerjain laporan bareng-bareng. Yaa.. memang kelompok kami terkenal dengan wacananya yang segambreng. No action talk only. Tapi itu gak sering-sering juga.
Memoriam Agustus-September.Well, kini kebersamaan itu tiada terjamah lagi. Semua kembali kepada aktivitas masing-masing. Jauh dari jangkauan. No joke, no exploitation. Tidak ada “kesengklekan” teman-temanku laskar elang. Biasanya ada yang bangunin Subuh, cuci piring, masak, beres-beres rumah. Biasanya ngajar ngaji, ngajar ke sekolah, ngumpul bareng remaja karang taruna. Sekarang kupu-kupu. Kuliah-Pulang-Kuliah-Perpus(biar gaya dikit). Hampa dan kosong.
..and I’m so lost...
Aku ingat betul perkenalan itu pada hari rabu, tepatnya seminggu sebelum lebaran idul fitri ada undangan kumpulan praKKN. Ya, memaksaku untuk menyadari bahwa ini pertemanan baru yang mau tidak mau akan membersamaiku selama 40 hari. Dari yang tidak biasa, menjadi biasa, dan kini menjadi tak biasa. Ah, semua pasti terasa asing bagiku. Impossible is possible. Dan pada akhirnya aku punya temen baru dari segala penjuru. Super jaimnya selangit karena terlihat dari gesturnya yang masih kaku. Makluklah.
***
Hari pertama, tepatnya tanggal 12 agustus 2013 kami bersiap-siap untuk dijemput Elang. Maksudnya naek angkot yang sengaja dicarter buat ke tempat KKN di Ciporeat. Jebreeettttttt dan kami pun sampai.
“Eh kita ini jadinya tinggal dimana?”, tanya Teh Fau.
“Hmm...Sebenernya kita udah liat-liat tuh yang di RW 9, lumayan enak tempatnya. Fasilitasnya lengkap pula. Tapi sama pak RW nya belum diijinin, soalnya si Bapa yang punya rumahnya masih kerja. Jadi untuk sementara kita liat-liat aja dulu yang di RW 2 ini”, jawab Jamal.
“Terus yang di RW 9 kejelasaannya kapan?”, Adul menambahkan.
“Naahh.. itu dia. Kita tinggal nunggu kepastian aja dari pemilik rumahnya paling sore nanti lah, apakah kita diijinin tinggal disana atau enggak. Sekarang mah kita ke rumah Pa RW 2 aja dulu”. Jawab Jamal sembari menyebrangi jalan menuju rumah Pa RW 2.
Tepat di hadapan rumahnya, Pa RW ternyata sudah bersiap-siap untuk menghantarkan kami. Lho...Padahal maksud kami sebelumnya untuk bersilaturahmi, dan berucap terima kasih karena sudah diterima di Pamulihan. Ya, it’s no bad. Kalau pa RW mau nganterin mah alhamdulillah.
Capcuuss...Sekonyong-konyong dan tergopoh-gopoh kita menuju ke tempat yang katanya bakal kita tempatin selama KKN disana. Semburat bahagia tersirat dari wajah-wajah Laskar Elang.
“Dul ini dimana sih rumahnya, udah beberapa belokan, tapi belom sampe-sampe juga”, tanyaku dengan kesan mengeluh.
Frida dengan penuh kesal, “Tuuhh kan mending yang di RW 9 ya. Udah mah deket ke masyarakatnya. Coba yang ini mah jauh kemana-mana”,
“Sstt..Sabar atuuhh. gak enak kalo sampe pa RW-nya denger.” Jamal bermaksud untuk meredam keluhan dan kekesalan kami.
“Nanggung kan udah mau sampe, Teh. Liat aja dulu rumahnya, siapa tahu lebih enak dari yang sebelumnya”. The Fau menambahkan.
Dan sesampainya disana...


Bersambung...

Sabtu, 27 Juli 2013

Mama Cookies


Assalamu'alaikum wr. wb

Numpang promosi nih….?!
Kebetulan Puasa tinggal menghitung jari, ayok buat ibu, bapak, om, tante, rekan-rekan semua yang sedang mencari kue kering, jawabannya ada disini. MamaCookies.. Kualitas baik, namun dengan harga yang terjangkau.

Di bawah ini beberapa kue kering yang kami pasarkan :

1.     Kue Pelangi


 2. Kue Abon



3.    Kue Keju

4.    Kue Kurma Cokelat


5.    Kue Molen



Harga mulai 30.000 an.. Ayok ditunggu ya ordernannya ke no HP 085721755648
email : mamacookies9@gmail.com
Alamat produksi : Mangunreja Kab. Tasikmalaya

Halaman

Halaman

 
Copyright Jejak-jejak Terekam 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .