Jumat, 06 Mei 2011

Pengambilan Keputusan Dalam Bidang Manajemen

A.       Pengertian Pengambilan Keputusan
Secara etimologi kata decide berasal dari Latin prefix “de” yang berarti “off”, dan kata caedo yang berarti “to cut”. Ini berarti proses kognitif “cuts off” sebagai tindakan memilih dari antara beberapa alternatif yang mungkin. Beberapa batasan keputusan dan pengambilan keputusan dapat dikemukakan sebagai berikut.
Decision making is commonly defined as choosing from among alternatives (Richard M. Hodgetts, 1975).
Decision making is the selection based on some criteria of one behavior alternatuve from two or more possible alternative (George R. Terry, 1977).
Pengambilan keputusan adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang (pimpinan) atau sekelompok orang (antarpimpinan atau antarpimpinan dan bawahan) dalam usaha memecahkan dan mencari solusi dari suatu problema yang dihadapi dengan merumuskan, menetapkan berbagai alternatif (Drs. Ulbert Silalahi, M.A., 1989).
Hakikat pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Pengertian di atas menunjukan lima hal dengan jelas, yaitu:[1]
1.      Dalam proses pengambilan keputusan tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan;
2.      Pengambilan keputusan tidak dapat dilakukan secara “sembrono” karena cara pendekatan kepada pengambilan keputusan harus didasarkan kepada sistematika tertentu.
3.      Bahwa sebelum suatu masalah dapat dipecahkan dengan baik, hakikat daripada masalah itu harus diketahui dengan jelas.
4.      Bahwa pemecahan masalah tidak dapat dilakukan melalui “ilham” atau dengan mengarang, akan tetapi harus didasarkan kepada fakta-fakta yang terkumpul secara sistematis, terolah dengan baik dan tersimpan secara teratur sehingga fakta-fakta/ data itu sungguh-sungguh dapat dipercayai dan bersifat up-to-date.
5.      Bahwa keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai alternatif yang ada setelah alternatif-alternatif itu dianalisis dengan matang.
Pengambilan keputusan yang tidak didasarkan kepada kelima hal di atas akan dihadapkan kepada berbagai masalah seperti:
1.        Tidak tepatnya keputusan karena kesimpulan yang diperoleh dari fakta-fakta dan data yang tidak up-to-date dan tidak dapat dipercayai;
2.        Tidak terlaksananya keputusan karena tidak sesuai dengan kemampuan organisasi untuk melaksanakannya, baik ditinjau dari segi manusia, uang maupun material;
3.        Ketidakmauan orang-orang pelaksana untuk melaksanakannya karena tidak terlihat dalam keputusan yang diambil sesuatu hal yang menunjukkan adanya sinkronisasi antara kepentingan organisasi dan pribadi orang-orang di dalam organisasi tersebut;
4.        Timbulnya penolakan terhadap keputusan karena faktor lingkungan belum disiapkan untuk menerima akibat daripada keputusan yang diambil.
Penulis merumuskan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu tindakan untuk memilih solusi dalam memecahkan suatu masalah.

B.       Berbagai Kekuatan Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
1.         Dinamika Individu
Secara ontogenetik dan filogenetik, antara individu yang satu dengan individu yang lain akan berbeda dalam mengambil keputusan untuk kepentingan pribadinya. Setiap pengambil keputusan oleh seseorang demi kepentingan organisasi akan dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya. Sebagai contoh, seorang direktur perusahaan yang dihadapkan pada pengambilan keputusan wanita mana yang harus ditetapkan sebagai sekretaris dari sejumlah pelamar, maka di sini faktor pribadinya akan turut berbicara.[2]
Jelaslah kiranya bahwa agar pemimpin dapat meramalkan reaksi, sikap, dan tindak-tanduk para bawahannya dalam rangka pelaksanaan daripada sesuatu keputusan yang diambilnya, ia perlu mengetahui bagaimana pandangan para bawahan itu terhadap diri mereka sendiri. Misalnya, jika tujuan organisasi bertentangan dengan tujuan individu di dalam organisasi kecenderungan yang akan timbul ialah tidak tercapainya tujuan organisasi yang efisien, efektif, dan ekonomis karena individu-individu pelaksana keputusan di dalam organisasi akan cenderung untuk mencapai tujuan pribadinya terlebih dahulu dengan, kalau perlu, mengorbankan kepentingan dan tujuan organisasi. Hal yang demikian harus dicegah jangan sampai terjadi. Pencegahan yang terbaik ialah dengan mensinkronisasikan tujuan dan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan individu di dalam organisasi.
2.         Dinamika Kelompok
Kelompok yang “baik” dalam suatu organisasi adalah kelompok yang telah “dewasa” atau terus-menerus berusaha supaya menjadi dewasa. Yang dimaksudkan dengan kedewasaan di sini ialah:[3]
a.       Kemampuan membina kerjasama yang intim dan harmonis dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawab bersama;
b.      Kesediaan untuk membawahkan kepentingan pribadi dan kelompok kepada kepentingan yang lebih luas, yaitu kepentingan organisasi;
c.       Kesediaan untuk menyerahkan sebahagian daripada hak kepada organisasi yang dibarengi oleh kesanggupan untuk menerima kewajiban yang lebih besar;
d.      Kemampuan untuk memikirkan cara baru, prosedur baru, sistem baru demi peningkatan kemampuan kerja yang lebih besar. Jika dalam suatu kelompok kerja sering terdengar sebutan bahwa “kami telah selalu bekerja dengan cara yang demikian ini dan tidak perlu merobahnya lagi”, hal ini merupakan suatu indikasi bahwa tingkat kedewasaan kelompok itu masih rendah;
e.       Kemampuan untuk menerima dan mempergunakan perubahan. Perobahan dapat dipandang sebagai suatu indikasi bahwa organisasi yang mengalami perubahan itu adalah organisasi yang hidup.
3.             Dinamika Lingkungan
Pengambilan keputusan harus didasarkan kepada satu skala prioritas yang rapih dan berencana oleh karena pada tingkat dan ruang lingkup masing-masing, keputusan-keputusan yang diambil berbeda dalam penting/tidaknya. Sesuatu keputusan menjadi penting apabila ia akan menjadi landasan utama untuk pelaksanaan tugas-tugas pokok organisasi dan akan berkurang pentingnya apabila keputusan itu hanya menyangkut bidang-bidang penunjang. Suatu keputusan tidak berdiri sendiri. Suatu keputusan yang penting, misalnya, merupakan suatu “sumber” yang menimbulkan reaksi berantai oleh karena putusan yang demikian akan diikuti oleh keputusan-keputusan lain yang kurang penting dan dibuat pada echelon yang lebih rendah. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa suatu keputusan hanya merupakan suatu titik dalam mata rantai waktu. Sekali satu keputusan yang diambil, segera timbul perubahan dalam lingkungan keputusan tersebut. Akibatnya ialah timbulnya masalah untuk dipecahkan. Pemecahan suatu masalah otomatis akan mengakibatkan timbulnya masalah baru yang untuk pemecahannya sesuatu keputusan harus diambil pula. Hadirnya selalu kekuatan-kekuatan pengubah dalam lingkungan memaksakan adanya usaha yang terus-menerus untuk memperbaharui keputusan dan tindakan. Kondisi, pengalaman, dan informasi baru menuntut perubahan dalam tujuan, kebijaksanaan, perencanaan, program kerja, dan prosedur kerja.[4]

C.            Jenis-jenis Keputusan
Keputusan diklasifikasikan berdasarkan struktur organisasi dan berdasarkan kondisi dan situasi sebagai berikut.[5]
1.        Keputusan berdasarkan struktur organisasi
Berdasarkan struktur organisasi tersebut, keputusan diklasifikasikan sebagai berikut:
a.       Keputusan administratif
Keputusan administratif adalah keputusan yang diambil oleh seorang administrator/manajer puncak sebagai pucuk pimpinan organisasi kekaryaan (work organization). Keputusan ini bersifat umum dan menyeluruh yang berfungsi sebagai landasan kebijakan yang oleh eselon bawahan harus dilakukan pengejewantahan.
b.         Keputusan eksekutif
Keputusan eksekutif ialah keputusan yang diambil oleh manajer eksekutif. Seperti dijelaskan di atas, kedudukan manajer eksekutif berada di antara manajer puncak dan manajer operatif. Tugas manajer eksekutif adalah meneruskan gagasan administrator dalam fungsinya sebagai koordinator yang mengkoordinasikan para manajer operatif.
c.         Keputusan operatif
Keputusan operatif adalah keputusan yang diambil oleh manajer operatif dalam rangka pelaksanaan gagasan, arahan, dan paduan manajer eksekutif. Yang dimaksudkan dengan pelaksanaan ialah segala kegiatan operasional hasil kerja, baik berbentuk barang maupun jasa.
d.         Keputusan teknis
Keputusan ini adalah yang paling rendah derajatnya yang diambil oleh para pengawas atau mandor. Sesuai dengan namanya, keputusan ini mengenai masalah-masalah teknis.
2.        Keputusan berdasarkan kondisi dan situasi
Keputusan berdasarkan kondisi dan situasi terdiri dari berbagai jenis yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.         Keputusan menurut sistem
1)        Sistem keputusan tertutup (closed decision system)
Sistem ini menganggap bahwa keputusan terisolasikan dari input-input yang tidak diketahui dari lingkungan. Pada sistem ini si pengambil keputusan dianggap:
a)        Memiliki pengetahuan tentang seperangkat alternatif dan konsekuensi hasil masing-masing.
b)        Mempunyai metode yang mungkin ia membuat urutan pilihan dari alternatif-alternatif.
c)        Memilih alternatif yang dapat meningkatkan secara maksimal, misalnya keuntungan atau volume perdagangan.
2)        Sistem keputusan terbuka (open decision system)
Sistem ini memandang keputusan berada dalam lingkungan yang rumit dan tak dikenal. Keputusan dipengaruhi oleh lingkungan, dan pada gilirannya proses keputusan mempengaruhi lingkungan. Model keputusan terbuka menganggap bahwa pengambil keputusan:
a)        Tidak mengetahui semua alternatif dan semua hasilnya.
b)        Melakukan penyelidikan yang terbatas untuk menemukan beberapa alternatif yang memuaskan.
c)        Membuat keputusan yang memuaskan taraf aspirasi.
b.         Keputusan menurut urgensi
1)      Keputusan vital; keputusan yang sangat penting yang menentukan berhasil tidaknya suatu usaha.
2)      Keputusan penting; keputusan untuk menghindarkan kerugian, baik kerugian uang, tenaga, benda, maupun waktu.
3)      Keputusan biasa; keputusan yang tidak begitu mendesak.
4)      Keputusan formalitas; kaputusan yang hanya formalitas saja.
c.         Keputusan menurut efek
1)      Keputusan managerial; keputusan yang berhubungan dengan pengolahan suatu pekerjaan, yang diambil untuk mengakhiri masalah yang berkaitan dengan pengelolaan pekerjaan tersebut.
2)      Keputusan teknis; keputusan yang diambil untuk menanggulangi masalah teknis pekerjaan.
3)      Keputusan ekonomis; keputusan yang mempunyai efek ekonomis untuk mengakhiri masalah-masalah ekonomis.
4)      Keputusan yuridis; keputusan yang bersifat yuridis dan mempunyai efek yuridis.
5)      Keputusan politis; keputusan yang mempunyai efek politis, yang dapat berpengaruh pada bidang politik.
d.         Keputusan menurut daya laku
1)      Keputusan definitif; keputusan yang pasti dan final, yang tidak perlu ditinjau kembali.
2)      Keputusan sementara; keputusan yang belum definitif, yang sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali.
3)      Keputusan darurat; keputusan yang diambil karena keadaan terpaksa. Bila keadaan sudah normal, keputusan akan dicabut kembali.
e.       Keputusan menurut frekuensi
1)      Keputusan insidental; keputusan yang diambil secara tiba-tiba atau sewaktu-waktu disebabkan situasi menghendaki demikian.
2)      Keputusan rutin; keputusan yang dilakukan berulang-ulang secara tetap.
f.        Keputusan menurut kemampuan organisasi
1)        Keputusan terprogram; Jenis keputusan ini adalah keputusan yang dapat diprakhususkan dengan suatu perangkat peraturan atau tatacara keputusan.
2)        Keputusan takterprogram; keputusan yang berlangsung hanya satu kali atau yang brulangkali yang setiap kali berubah apabila dikehendaki.

D.           Langkah-langkah Dasar Pengambilan Keputusan
1.        Identifikasi masalah
Dalam mengkaji masalah ini, jawaban dari beberapa pertanyaan berikut ini akan memperjelas perumusan masalah:
a.        Mengapa masalah itu harus dipecahkan?
b.      Apa untung ruginya?
c.       Faktor-faktor apa yang berpengaruh?
d.      Kapan harus diselesaikan?
e.       Berapa biaya yang diperlukan?
f.        Harapan apa yang dapat diperoleh?
g.       Bagaimana melaksanakannya?
h.      Siapa yang akan diikutsertakan?

2.        Pengumpulan data
Untuk memecahkan masalah, data sangat diperlukan. Dan data ini sudah tentu harus relevan. Untuk inilah pentingnya sistem informasi dalam suatu manajemen. Dan bukan saja informasi yang masuk, kemudian disimpan untuk hasil karya sendiri atau hasil pemecahan suatu masalah di waktu-waktu yang lampau, kemudian catatannya disimpan, kalau-kalau diperlukan dikemudian hari, untuk bahan perbandingan dan untuk dijadikan landasan pemecahan masalah yang mungkin sama, atau untuk kegiatan lain.
Ada sumber-sumber informasi luar dan dalam. Sumber luar adalah yang berikut:[6]
a.       Lingkungan – sosial, politis, hukum, lokal, ekologis, dsb.
b.      Ekonomi – kecenderungan, ramalan, korelasi, data tentang keadaan sekarang, tingkat bunga, dsb.
c.      Persaingan – produk, perusahaan, daerah, luasnya, kemungkinan rencana, dsb.
Sumber-sumber dalam adalah:
a.       Keuangan – modal, pembikinan, pemasaran, inventaris, laba, dsb.
b.      Non-keuangan – organisasi, personalia, metode, kemudahan, dsb.

3.        Analisis data
Pada tahap ini, data yang sudah terkumpul diolah dengan sistematis, sesuai dengan pertanyaan yang dirumuskan pada tahap identifikasi masalah tdi. Data yang sudah dikumpulkan itu kini menjadi informasi, karena kini dipergunakan dalam hal untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, penganalisisan data harus dihubungkan dengan serangkaian pertanyaan berikut:
a.       Situasi yang bagaimanakah yang menimbulkan masalah yang sedang dihadapi?
b.      Apakah latar belakang daripada masalah ini dan masalah-masalah lain yang telah pernah dihadapi oleh organisasi?
c.       Apa pengaruh dan hubungan antara masalah yang dihadapi sekarang dengan tujuan, rencana, kebijaksanaan, dan program kerja dan kegiatan-kegiatan organisasi lainnya?
d.      Menurut perkiraan, apakah konsekuensi yang akan timbul jika sesuatu keputusan diambil?
e.       Apakah pemecahan masalah yang dihadapi sesuai dengan kapasitas nyata daripada organisasi?
f.        Apakah timing pengambilan keputusan sudah tepat?
g.       Informasi yang dimiliki pun seharusnya memungkinkan seorang pemimpin untuk menjawab pertanyaan: apakah keputusan yang akan diambil bersifat satu kali ataukah bersifat repetitif?
h.      Siapa yang akan ditugaskan mengambil tindakan?

4.        Penentuan alternatif
Data yang sudah dianalisis itu menimbulkan beberapa alternatif yang Harus diambil salah satu yang menurut pertimbangan paling baik. Dalam penentuan alternatif ini tidak mungkin minta tolong pada komputer. Penentuan alternatif harus berdasarkan pertimbangan yang matang, berlandaskan pemikiran yang masak.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat dijadikan pedoman dalam menentukan sifat penugasan tersebut:
a.       Siapakah yang pada instansi terakhir akan mengambil keputusan dan informasi apakah yang akan dibutuhkannya?
b.      Spesialisasi dan fungsionaris apakah yang akan turut terlibat dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam proses pelaksanaan daripada keputusan yang akan diambil?
c.       Siapakah yang akan terkena oleh keputusan yang akan diambil?
d.      Atas faktor strategis apakah keputusan itu tergantung?
Jika penugasan individu-individu untuk menganalisis alternatif yang telah dilakukan, maka langkah berikutnya adalah analisisnya sendiri, yang pada hakikatnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1)        Mengetahui sifat-sifat khas daripada keadaan yang dihadapi.
2)        Menganalisis data dan fakta-fakta dalam hubungannya dengan sejarah organisasi.
3)        Motivasi dalam pengambilan keputusan.

5.        Pelaksanaan alternatif
Jika alternatif telah diputuskan, maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan alternatif tersebut yang menghendaki direalisasikannya dalam bentuk kegiatan-kegiatan. Pelaksanaan tersebut harus sinkron dengan strategi yang sudah digariskan. Dalam organisasi kekaryaan sudah biasa terdapat rintangan. Rintangan terhadap jalannya pelaksanaan keputusan itu. Tetapi bagi seorang pengambil keputusan yang berpengetahuan dan berpengalaman luas, rintangan-rintangan sudah diperhitungkan pada tahap pertama pada waktu merumuskan masalah. Oleh sebab itu, guna menghilangkan setiap penghalang sudah diketahui caranya.

6.        Penilaian
Penilaian atau evaluasi adalah tahap akhir proses pengambilan keputusan. Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan yang dilaksanakan cocok dengan perencanaan. Kalau tidak, harus segera diadakan tindakan-tindakan untuk memperbaikinya. Penilaian harus objektif. Agar benar-benar objekif untuk penilaian ini dapat dimintakan orang ketiga, baik yang terlibat langsung, maupun tidak langsung dalam proses pengambilan.

E.            Sarana Pengambilan Keputusan
1.        Rapat (meeting)
Rapat merupakan suatu bentuk media komunikasi kelompok resmi yang besifat tatap muka, yang sering diselenggarakan oleh banyak organisasi, baik swasta maupun pemerintah. Langkah-langkah dalam mengefektifkan rapat:[7]
a.         Persiapan
Persiapan meliputi kegiatan sebagai berikut:
1)      Merumuskan masalah yang akan dibawa ke rapat
2)      Menentukan orang-orang yang akan diminta menjadi peserta rapat
3)      Menetapkan tempat dan waktu rapat
4)      Menyusun agenda
5)      Membuat surat undangan
6)      Membuat daftar hadir
7)      Menyediakan audio visual aids
8)      Menunjuk notulis.

b.        Pelaksanaan
1)      Mempersiapkan para peserta rapat mengisi daftar hadir
2)      Membuka rapat, diteruskan dengan pemberitahuan siapa-siapa yang tidak hadir, dan pembacaan agenda rapat
3)      Memaparkan tujuan rapat
4)      Mempersilakan peserta rapat memberikan tanggapan
5)      Memelihara berlangsungnya pembahasan masalah, sehingga teratur dan tertib
6)      Membacakan simpulan, dilanjutkan dengan penutupan rapat.

c.         Penilaian
1)      Menginstruksikan kepada notulis untuk menyusun secara sistematis dan memperbanyak hasil kerjanya
2)      Mengkaji hasil pengetikan notulis
3)      Mentransformasikan simpulan rapat ke dalam bentuk surat putusan, atau instruksi, atau surat edaran, atau bentuk-bentuk lainnya sesuai dengan isi, urgensi, situasi, dan kondisi
4)      Memasukkan semua hasil rapat dalam map atau order untuk disimpan dalam lemari arsip.

2.        Curah saran (brainstorming)
Pada dasarnya pendekatan tersebut berupaya untuk mencari ide-ide dengan jalan menyatukan upaya-upaya beberapa orang yang bertindak sebagai suatu kelompok yang mencari pemecahan atas suatu masalah. [8]Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan curah saran ini:
1)      Para peserta duduk mengelilingi meja dengan jumlah tidak lebih dari 15 orang.
2)      Suasana diciptakan sedemikian rupa sehingga tidak formal.
3)      Karena tujuan curah saran adalah untuk menampung gagasan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk memecahkan suatu masalah.
4)  Pemrakarsa curah saran mengumumkan kepada peserta masalah yang akan dipecahkan.
5)      Curah saran akan berhasil apabila peserta hampir sama derajat fungsinya.
6)      Diskusi dalam curah saran sengaja tidak menggunakan pola tertentu.
7)      Peserta digalakkan untuk berpartisipasi.
8)      Selama diskusi, penilaian atau kritik apapun tidak dibenarkan.
9)      Semua gagasan dituangkan dalam bentuk tulisan.
10)  Begitu curah saran selesai dan semua gagasan dihimpun dalam bentuk yang mudah diperiksa, maka kegiatan meningkat pada tahap penilaian secara menyeluruh.


SUMBER

Benge, Eugene J., Pokok-pokok Manajemen Modern, Pustaka Binaan Pressindo, Jakarta, 1994.
Effendy, Onong U., Sistem Informasi Manajemen, Mandar Maju, Bandung, 1996.
Siagian, Sondang P., Sistem Informasi Untuk Pengambilan Keputusan, Jakarta, 1988.
Silalahi, Ulbert, Studi Tentang Ilmu Administrasi, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1989.
Winardi, Asas-asas Manajemen, Mandar Maju, Bandung, 1990.

SITUS WEB
http://hasbulloh.multiply.com/journal/item/14 situs web tentang manajemen rapat yang efektif.
http://www.slideshare.net/bang-qq/peran-sistem-informasi-manajemen-dalam-pengambilan-keputusan-organisasi situs web tentang peran sistem informasi manajemen dalam pengambilan keputusan organisasi.

0 komentar:

Posting Komentar

Halaman

Halaman

 
Copyright Jejak-jejak Terekam 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .