Rabu, 20 Agustus 2014

Surat Untuk Anakku

16 Agustus 2014
            Dear anakku.. Syukur bunda kepada Allah Swt karena kamu sudah tiga bulan dalam kandungan bunda. Tinggal beberapa minggu lagi kamu sudah empat bulan. Tahu tidak, nak, pada hari ke 120, Allah swt. meniupkan ruh-Nya kepada setiap janin. Semoga sehat selalu ya, nak.
            Hari ini bunda mau cerita sama kamu kalau bunda seneng banget. Bunda diselimuti kebahagiaan yang lebih dikarenankan masih diberi kesempatan untuk bertatap muka, membalas kerinduan, siapa lagi kalau bukan sama ayahmu, nak. Setelah lima hari tak bertemu, dan bagi bunda itu bukanlah waktu yang singkat.
            Bunda hitung dan selalu bunda lihat tanggal yang menghiasi kalender di hp. Lama sekali melewatkannya. Mungkin karena belum ada kesibukan yang menyita, secara tidak langsung membuat bunda seringkali termenung seorang diri. Berkhayal kalau ayahmu tiba-tiba ada di depan bunda. Terkadang juga bunda berkhayal kalau doraemon itu bener-bener minjemin pintu ajaibnya ke ayah. Nak, itu hanya becandaan untuk menyenangkan hati bunda saja. Hehe
            Minggu ke minggu bunda lalui. Tak terasa sudah lima minggu terlewatkan. Kalau sudah hari jumat jadi seneng bukan main. Padahal bunda tahu kalau ada kamu bersama bunda. Terkadang bunda juga galau kalau sudah menghadapi hari minggu, karena ayah terpaksa harus ke Bogor lagi. Bagi bunda waktu dua hari itu tidak cukup untuk melepas kerinduan kami. Padahal bunda tahu kalau bunda sedih, kamu pun ikut merasakannya. Sabar ya sayang
            Bunda selalu berdoa seperti ini, “Ya Allah, Engkau Maha Tahu apa yang aku rasakan. Engkau pun Maha Tahu apa yang aku terangkan dan apa yang aku sembunyikan. Maka Engkau pun Maha Tahu keadaan hatiku saat ini yang sedang menderita rindu karenanya. Ya Allah, ketika rindu ini tak dapat kubendung lagi, air mata pun tak kiranya membasahi kesakitanku ini. Ya Allah, hanya pada-Mu lah hamba memohon dan meminta, dan hanya pada-Mu lah kupasrahkan segala urusanku. Sampaikanlah salam rinduku untuknya. Limpahkanlah kesehatan untuknya dan lindungilah dimana pun ia berada. Semoga Engkau senantiasa membersamainya dalam keadaan apapun.” Aamiinn
            Suatu ketika ayahmu pulang sebelum jadwalnya. Bunda berfikir mungkin ini jawaban untuk doa bunda. Tapi sayangnya ayahmu harus terburu-buru pulang ke Bogor lagi. Apa yang bisa bunda lakukan? Bunda tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menundukkan kepala, terisak kembali, dan curhat lagi sama Allah. Kali ini bunda meminta supaya Allah memberi kekuatan untuk bunda agar bunda bisa menghadapinya. Menghadapi kesepian bunda dan menghadapi kejamnya dunia.
            Pada hari ini bunda banyak belajar dari kehidupan, tentunya karena ayahmu juga yang menyadarkan bunda. Ya, ketika bunda dan kamu ditinggal sementara oleh ayah untuk pendidikan, itupun hanya 3 bulan, dan itu juga ada kesempatan pulang saat weekend. Seharusnya bunda bersyukur, karena di luaran sana banyak para istri dan anak yang ditinggal suaminya merantau untuk entah kapan bertemunya.
            Bunda jadi inget kata-kata ayahmu malam itu. Kata–kata yang bisa menguatkan dan meyakinkan hati, serta menegarkan bunda untuk tetap tersenyum, “Yang sabar.. Badai pasti berlalu. Tidak selamanya kaka pendidikan. Coba diinget lagi pas ngekos dulu. Bagaimana survivenya. Jangan lebih kayak gini (sambil mengusap air mata bunda). Dijaga emosionalnya, kasian sama dede atuh. Ibu hamil kan bawaannya harus tenang. Dengan ayank sehat dan baik-baik aja, kaka udah seneng. Makan yang teratur, jangan mogok makan. Yang terpenting kita saling percaya dan saling menjaga hati.”
Seperti itu, nak. Suatu hari kamu pun akan mengerti mengapa bunda tulis surat ini untuk kamu. Oya waktu itu juga ayah sama bunda berkesempatan untuk jalan-jalan ke kebun binatang Bandung. Sengaja ayah sama bunda ke sana supaya kamu tahu berbagai binatang ciptaan-Nya dan kamu belajar untuk menyayanginya, meskipun kamu masih berada dalam kandungan bunda. Bunda tahu kamu dapat merasakannya dan mempelajarinya. Salam penantian dari kami untukmu, nak.
Ayah lagi di bonbin. Kalau gak salah lagi ngasih makan Waw waw sumatra hhe

Kalau bunda lagi ngasih makan rusa ^_^


0 komentar:

Posting Komentar

Halaman

Halaman

 
Copyright Jejak-jejak Terekam 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .