Senin, 21 Oktober 2013

WEDDING VIRUS


Pasti pertanyaan yang keluar tuh “Kapan nikah?” “Kapan nyusul?”. Konon katanya pertanyaan demikian itu bentuk perhatian dan kasih sayang. Lho kok? Dan yang lebih parahnya lagi jika lingkungan kita kebanyakan yang sudah nikah alias pengantin baru. Sudah pasti dicekoki dengan pertanyaan demikian. Betul, bukan? Semakin menjadi-jadi. Oh God, rasanya ingin bersembunyi saja -_-“.
Naah jika pembaca mengalaminya, itu artinya anda sedang mengalami wedding virus atau yang disebut-sebut dengan virus nikah. Namanya juga virus, ya pasti menyebar. Istilah virus nikah ini penulis gunakan sebagai suatu keadaan dimana keinginan-keinginan yang tidak terkendali itu muncul namun tidak diimbangi dengan kesiapan-kesiapan menikah. Keadaan tersebut pun hanya didorong oleh lingkungan yang kebanyakannya sudah pada nikah. Jika pembaca tidak setuju, itu pun tidak apa-apa hehe
Saya jadi inget kutipan dari temen, katanya nikah itu nikmat, indah dan ibadah. Beliau nyesel katanya. What? Kok bisa nyesel? Katanya beliau nyesel kenapa gak dari dulu menikah. Beliau menambahkan, dengan menyegerakan menikah berarti mencegah perbuatan yang tidak diinginkan. Maksudnya terhindar dari berbuat yang macem-macem. Nah lho?! Tapi justru sebaliknya, setelah menikah justru perbuatan yang demikian itu dapat menjadi ladang pahala. (Subhanallah..nambah kabita aja, ahha) :D
Eits tunggu dulu..Bukan berarti pula dengan kita menyegerakan menikah lantas kita tidak memperhatikan hal-hal yang lain. Kita harus mengingat biaya yang harus dipersiapkan oleh kedua orang tua untuk menikahkan kita kelak. Emangnya uang kayak daun kering yang jatoh gitu aja? Ahha. Terlebih ketika kita masih kuliah, yang lantas harus kita pikirkan adalah kesanggupan kita dalam memanaje waktu antara kuliah dan rumah tangga, manakala sudah menikah. Yang tidak ketinggalan juga adalah pengetahuan kita tentang menikah. Naah artinya harus ada kemampuan secara lahir dan batin ketika kita dihadapkan dengan menikah.
Yaa, arti menyegerakan menikah disini ialah bagi mereka yang sudah mampu secara lahir dan batin. Pertanyaannya, apakah kita sudah mampu secara lahir dan batin? Saya kembalikan kepada pembaca, hehe. Jadi jangan karena lingkungan kita udah pada nikah, lantas kita ikut-ikutan senewen pengen ikut nikah juga, sedangkan (red: secara lahir maupun batin pun) belum siap. Pembaca pun pasti tahu bahwasannya menikah itu bukan untuk satu atau dua minggu saja. Tapi berjangka panjang. Perlu kematangan dan hal-hal yang dipertimbangkan disana.
Terus harus gimana dong menangkal virus nikah ini? Well, ada beberapa tips yang saya dapet nih dari beberapa pakar dan beberapa artikel yang saya kutip. Di antaranya perbanyak puasa, perbanyak melakukan kegiatan positif. Artinya, dengan kita melakukan puasa, maka hal-hal yang tidak diinginkan itu dapat ditahan dan dihindari. Sedangkan dengan memperbanyak kegiatan positif, maka ingatan kita terhadap hal-hal nikah itu dapat diminimalisir karena fokus kita itu adalah melakukan aktivitas bermanfaat. Selanjutnya, bergaulah dengan lingkungan yang baik dan orang-orang yang baik. Artinya mereka pasti akan mengarahkan kita kepada hal yang baik tentunya.
Tak lupa untuk memanjatkan doa kepada Yang Kuasa, agar kita segera dimampukan secara lahir dan batin untuk menikah dan disandingkan dengan seseorang yang akan membawa kita kepada-Nya. Aamiin Allohuma Aamiinn

0 komentar:

Posting Komentar

Halaman

Halaman

 
Copyright Jejak-jejak Terekam 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .