Minggu, 10 November 2013

[Cermin] Yang Terpendam Mencuat Juga


Semilir angin malam itu membuatnya kedinginan. Menurutnya tak seperti malam-malam sebelumnya. Namun kedinginannya tetap mampu membalut keindahan Kota Bandung di malam hari, bak permata berkilauan saling memanjakan. Jelas, masih terasa ego yang mengalahkan keikhlasannya seminggu yang lalu. Dan sungguh kerinduan yang terbesit sudah terbayar dengan pertemuan itu.
Ia tengok lima hari yang lalu, di antara mereka tak saling memberi kabar. Seperti perang dingin antar blok . Sampai suatu ketika ia kirim tulisan untuk Rama sebagai kecaman.

Aku Seperti Bukan Diriku

Semestinya katakan saja
apa yang menjadi kekuranganku
Bukan dengan kau sulut kecemburuan ini
Dan harusnya aku tak berkata begini
jika kau mengerti
Bukan dengan aku biarkan kau sadari

Apa jadinya jika kepercayaan ini lambat laun terkikis?
Apa jadinya jika status ini sedikit demi sedikit hanya simbol tak berarti?
Jika kau tahu hatinya selalu ia jaga untukmu
Jika kau tahu perasaan nyeri yang ia rasa karenamu
Apa yang kau tunggu?

Lewat tulisan ini,
semoga kau mengerti.

Tahukah maksudnya apa? Selama seminggu Sinta menahan kecemburuan itu. Mencoba menghalau namun tetap berujung dengan puncak kekesalan yang tak pernah ia inginkan.
“Kenapa atuh?” tanya Rama padanya di telepon.
“Baru kali ini aku cemburu begitu terlalu. Sengajakah engkau membuat aku seperti ini?”kata Sinta sembari kesal.
Dijelaskanlah oleh Rama panjang lebar. Sebab musabab yang sebenarnya satu sama lain hanya berbeda pada satu pandangan saja. Wajarlah jika sang kekasih cemburu. Yang tak wajar itu, jika kecemburuannya ia pendam lama sekali dan suatu saat mencuat ke permukaan karena tak terbendung lagi, seperti yang terjadi pada Sinta.
Di malam minggu itu ia habiskan makan malam bersama Rama. Mengingat dan mengevaluasi setiap lika-liku perjalanan mereka. Merasa lelah sendiri dengan sikap yang salah. Ya, ia sesali penyikapannya terhadap permasalahan itu. Dimana ia tak mampu mengaplikasikan apa yang selama ini dipelajarinya.
Ia tak berkaca terhadap pengalaman-pengalaman yang lalu. Begitu ada permasalahan, seharusnya ia sikapi dengan kepala dingin. Bukan dengan menjudge begitu saja tanpa berpikir panjang. Tiada pengamalan keikhlasan disana. Membantai hati Rama tanpa ia pedulikan Rama yang justru mengalah bersama keikhlasan dan kesabaran. Finally, evaluasi itu membuka mata Sinta untuk tidak menafsirkan segala sesuatunya dengan tergesa-gesa. Mengingat keihklasan, kesabaran, dan berpikir positif harus menjadi kunci setiap perjalanan dalam kehidupannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Halaman

Halaman

 
Copyright Jejak-jejak Terekam 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .